Rabu, 27 Oktober 2010

Tuhan, kita, dan bencana!!!

Kata mereka bencana itu hukuman Tuhan,

Kataku tidak sepenuhnya benar,

toh sebagian aktivitas alam yang terjadi di lingkungan kita sangat mungkin untuk diantisipasi

Kita hidup di negara yang sarat dengan gunung berapi,

sebagian besar dikatakan ”tertidur”

tetapi suatu hari siapa yang tahu ada gejolak magma yang meluap keluar?

Apakah kita tidak dapat mengantisipasinya? Tentu dapat.

Apakah kita mampu meminimalkan musibah? Tentu kita mampu.

Akan tetapi apakah kita melakukannya? Itulah yang menjadi pertanyaan.

Kita hidup di negara yang dikelilingi air,

Ya karena negara tercinta kita adalah negara kepulauan

Kita sungguh mengerti bahwa terkadang ombak akan menghantam pantai

Kita beruntung jika ombak tersebut adalah ombak kecil, karena ombak besarnya sudah terpecah di tengah lautan

Akan tetapi kita pasti paham bahwa terkadang ombak sangat besar akan menghantam pantai, apalagi jika sebelum mendarat di pantai berkolaborasi dengan gempa di dasar lautan,

Suatu gejala alam yang dikenal dengan istilah ”tsunami”, gelombang sangat besar.

Kita pernah mengalami penderitaan besar karena tsunami

Kita mendapatkan belas kasihan dari banyak bangsa karena pengalaman masa lalu kita

Apakah kita memanfaatkannya dengan belajar baik-baik?

Apakah kita sudah mengantisipasi tsunami di hari-hari berikutnya dengan sangat cermat?

Apakah kita sudah melakukan yang terbaik sesuai dengan kemampuan dan hikmat yang Tuhan berikan kepada kita?

Barangkali itu juga yang menjadi pertanyaan

Masih terkait dengan air, kita mengerti bahwa ada musim hujan dan ada musim kemarau

Kita pun memahami bahwa anomali cuaca sedang terjadi

Itupun sebagian karena ulah kita dan sesama kita di belahan dunia sana

Kita mengacaukan sistem kehidupan sehingga penghangatan global lebih cepat terjadi

Kita merusak tatanan alam dengan gaya hidup kita yang katanya serba modern

Kita mengerti bahwa tempat air mengalir atau meresap menjadi makin terbatas

Akankah kita heran jika terjadi genangan air di mana-mana, suatu kata yang sedikit lebih manis ketimbang kata ”banjir” yang menakutkan itu?

Apakah kita tidak sanggup belajar dari negara lain yang mampu menanggulangi banjir dan air yang berlimpah di negaranya?

Kita mampu dan kita pasti memiliki ahli untuk mempraktikkan kedigjayaannya di dalam urusan ini

Apakah kita sudah mengupayakan yang terbaik dengan segala keterampilan dan kehandalan kita?

Barangkali belum dan itu masih menjadi pertanyaan kita.

Kita memahami dengan baik bahwa orang-orang yang tengah dirundung malang perlu dibantu

Doa, dukungan sosial dan emosional, dukungan finansial dan kesehatan, perbaikan prasarana dan sarana dalam waktu singkat sangatlah dibutuhkan

Kita menyatakan prihatin dan amat berduka

Akan tetapi sebagian kita memilih untuk berkomentar pedas dan pahit

Seolah ingin menunjukkan perhatian, tetapi sesungguhnya mendaratkan luka

Sadarkah kita dengan kebiasaan kita?

Mungkin sadar, mungkin tidak, itu masih menjadi pertanyaan..

Ya, kita harus banyak belajar

Berkaca dengan bencana, membaca raut musibah

Kita harus lebih tekun mengecap sekolah alam

Dan mengembangkan kecerdasan kita untuk mengantisipasi, bukan menuding

Untuk menanggulangi, bukan memunggungi

Untuk membantu, bukan menjadi hantu

Bagi alam kita

Bagi sesama kita

Bagi kesejahteraan lahir batin kita bersama

Sambil tangan kita tetap terangkat kepada Tuhan

Dan mengijinkan Sang Mahakuasa menggenggam kehidupan kita

seutuhnya

= ditulis dalam kelimbungan batin =

27 Oktober 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar